KABUPATEN TANGERANG – Kondisi industri hiburan lokal saat ini menjadi perhatian banyak pelaku seni. Sejumlah penyanyi lokal mengaku harus menghadapi kenyataan pahit karena tarif manggung yang diterima terus mengalami penurunan, sementara biaya kebutuhan hidup dan operasional justru semakin meningkat.
Para penyanyi yang biasa tampil di acara pernikahan, khitanan, hajatan, hingga panggung hiburan rakyat mengungkapkan bahwa persaingan yang semakin ketat membuat banyak pihak rela menerima honor di bawah standar. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan para pelaku seni yang menggantungkan penghasilan dari dunia hiburan.
Selain persaingan tarif, perubahan tren hiburan juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian penyelenggara acara kini lebih memilih konsep hiburan yang lebih sederhana dan berbiaya rendah, sehingga anggaran untuk penyanyi maupun grup musik ikut berkurang. Fenomena hiburan organ tunggal yang lebih praktis dan ekonomis juga memengaruhi struktur biaya pertunjukan di berbagai daerah.
Seorang penyanyi lokal yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin dengan kondisi tersebut.
“Dulu sekali tampil masih bisa mendapatkan bayaran yang layak. Sekarang banyak yang menawarkan harga jauh lebih rendah. Kalau tidak diterima, pekerjaan bisa berpindah ke penyanyi lain.”
Pelaku seni berharap pemerintah daerah, komunitas musik, serta penyelenggara acara dapat lebih menghargai profesi penyanyi dengan memberikan honor yang layak sesuai kemampuan dan kualitas penampilan. Mereka juga berharap semakin banyak ruang pertunjukan dan kegiatan seni yang dapat membuka peluang kerja bagi musisi dan penyanyi lokal.
Di tengah tantangan yang ada, para penyanyi lokal tetap berkomitmen untuk berkarya dan menghibur masyarakat. Mereka meyakini bahwa dukungan masyarakat terhadap seni dan budaya lokal menjadi salah satu kunci agar dunia hiburan daerah tetap hidup dan mampu memberikan penghidupan yang layak bagi para pelakunya.














